Jakarta, Bugissulsel.com – Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan perubahan desil pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Volume 3 tidak serta-merta membuat masyarakat kehilangan bantuan sosial yang selama ini diterima.
Penegasan itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyusul munculnya perubahan desil yang dialami sebagian masyarakat setelah pemutakhiran data DTSEN.
Menurut Gus Ipul, perubahan tersebut terjadi karena adanya tambahan sekitar 12 juta data baru dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang masuk ke dalam sistem.
Data tersebut sebelumnya belum melalui proses verifikasi dan validasi secara menyeluruh sehingga memengaruhi pemeringkatan kesejahteraan dalam DTSEN.
"Baru masuk 12 juta data baru dari BKKBN yang belum dilakukan verifikasi dan validasi. Sehingga loncat-loncat," ujar Gus Ipul dalam siaran pers, dikutip, Jumat (4/9).
Dia mengatakan, pemerintah kini tengah merapikan dan menstabilkan data melalui proses verifikasi dan validasi bersama pemerintah daerah.
Langkah itu dilakukan agar data yang digunakan dalam penyaluran bantuan sosial benar-benar akurat dan sesuai kondisi masyarakat.
"Nah sekarang sudah distabilkan, dirapikan, diverifikasi dan validasi. Insyaallah dalam waktu 1-2 minggu ke depan, data ini akan makin akurat," katanya.
Gus Ipul menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir apabila mendapati perubahan posisi desil dalam DTSEN.
Pasalnya, perubahan tersebut tidak otomatis menghapus hak seseorang sebagai penerima bantuan sosial.
Menurut dia, penentuan penerima bantuan tetap dilakukan melalui mekanisme penetapan pada awal periode penyaluran.
"Tidak serta-merta orang yang sekarang desilnya berubah, itu otomatis dicoret. Karena masih menunggu penetapan pada awal bulan penyaluran," jelasnya.
Disisi lain, Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis Andy Kurniawan menjelaskan bahwa desil bukan indikator mutlak untuk menilai seseorang kaya atau miskin.
Desil merupakan sistem pemeringkatan kesejahteraan yang bersifat relatif secara nasional.
Karena menggunakan sistem perbandingan antarpenduduk, posisi desil seseorang dapat berubah meskipun kondisi ekonominya tidak mengalami perubahan.
"Desil itu bukan sertifikat kaya dan miskin. Desil tidak bisa disamakan dengan penghasilan," kata Andy.
Ia menambahkan, perubahan kondisi ekonomi masyarakat lain yang masuk dalam basis data juga dapat memengaruhi posisi seseorang dalam pemeringkatan desil DTSEN.
“Perubahan desil tidak selalu mencerminkan naik atau turunnya tingkat kesejahteraan seseorang secara langsung,” pungkasnya.
Editor: A.Cakra |


